|
Written by Teguh Boediyana
|
|
Tuesday, 25 August 2009 22:16 |
|
SWASEMBADA DAGING SAPI : PERLU PEMBENAHAN DATA Oleh : Teguh Boediyana.
Tekad pemerintah untuk mewujudkan swasembada daging sapi merupakan langkah yang sudah on the right track dan harus didukung sepenuhnya karena bersangkutan dengan ketahanan dan kedaulatan pangan. Sebagai wujud tekad tersebut dan sebagai salah satu bagian dari kebijakan Revitalisasi Pertanian, Menteri Pertanian di tahun 2005 mencanangkan program swasembada daging sapi tahun 2010. Berangkat dari posisi sekitar 30 persen kebutuhan daging sapi nasional dipenuhi dari impor, ditargetkan di tahun 2010 kebutuhan daging sapi nasional dapat dipenuhi sedikit-dikitnya 90 persen dari pasokan daging sapi lokal.
Dalam perjalanannya, ternyata setahun sebelum waktu pencapaian target swasembada daging sapi di tahun 2010, Departemen Pertanian telah melempar “handuk putih“ dan saat ini sedang mensosialisasikan program swasembada daging sapi di tahun 2014. Beberapa bulan yang lalu, seperti dilansir beberapa surat kabar, Menteri Pertanian mengakui bahwa program swasembada daging sapi tidak dapat dicapai seperti yang direncanakan dan digeser ke tahun 2014.
Telah diperkirakan
Sebenarnya dari jauh hari telah diperkirakan terjadinya kegagalan untuk swasembada daging sapi di tahun 2010. Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia di awal tahun 2006 secara resmi telah menyampaikan warning bahwa program swasembada daging sapi tahun 2010 hanya akan menjadi retorika. Perkiraan akan tidak terwujudnya program swasembada karena dalam Master Plan yang disusun oleh Badan Litbang Departemen Pertanian banyak hal-hal yang perlu dipertanyakan dan klarifikasi terutama beberapa asumsi yang digunakan. Sebagai misal kebutuhan dana pembinaan Rp. 2,5 Triliun, pemberdayaan dana masyarakat sebesar Rp. 22 Triliun dan pengadaan sapi bibit impor sejumlah satu juta ekor dalam waktu dua tahun.
Tampaknya Menteri pertanian sangat confident dengan perencanaan yang telah disiapkan dan tidak melakukan perobahan atas target. Hal ini dapat dimaklumi karena di Negara kita tidak ada sanksi apapun apabila Pemerintah tidak berhasil mencapai target yang dibuat sendiri. Akuntabilitas Pejabat pemerintah belum ada mekanismenya dan umumnya rakyat tidak peduli.
|
|
Last Updated on Tuesday, 25 August 2009 22:58 |
|
Read more...
|
|
|
Written by rochadi tawaf
|
|
Tuesday, 02 June 2009 19:07 |
|
Merebaknya kasus gizi buruk atau mal-nutrisi pasca krisis ekonomi tahun 1997 yang lalu hingga kini, hampir setiap hari masih dapat kita baca dan saksikan di berbagai media masa. Menurut Depkes (2004) bahwa pada tahun 2003 terdapat sekitar 5 juta Balita kurang gizi, 3,5 juta anak dalam tingkat kurang gizi, dan 1,5 juta anak status gizi buruk Selanjutnya, berdasarkan hasil penelitian Unicef yang dipublikasikan tahun 1999, oleh perwakilan PBB/UNICEF untuk Indonesia dan Malaysia, menyatakan bahwa akibat gizi buruk di Indonesia setiap 2 menit seorang Balita meninggal, setiap 40 detik lahir seorang Balita abnormal dan setiap 20 menit seorang ibu meninggal sewaktu persalinan dengan indikator IQ turun 10 point, fisik lemah, penyakit jantung dan kencing manis (Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Bandung, 2002). Oleh karenanya, indikator konsumsi protein hewani suatu bangsa dapat pula dijadikan salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan bangsa itu. Hal ini disebabkan antara konsumsi gizi dengan prestasi manusia sangatlah erat hubungannya. Salah satu komponen gizi yang menjadi sangat penting adalah protein hewani. Protein ini, berasal dari hasil produksi ternak dan ikan, memiliki karakteristik asam-asam amino yang tidak dimiliki oleh protein dari sumber lainnya (nabati).
|
|
Last Updated on Saturday, 11 July 2009 20:45 |
|
Read more...
|
|
Written by Djabaruddin Djohan
|
|
Wednesday, 29 April 2009 00:49 |
Siapapun yang masuk koperasi karena tertarik pada gemericingnya uang, dialah yang pertama kali akan keluar jika tidak ada lagi gemericing uang Paul Hubert Casselman (1951)
Salah satu faktor utama yang membedakan koperasi dengan perusahaan-perusahaan lainnya, adalah berlakunya nilai-nilai yang menjiwai setiap kegiatan koperasi. Nilai-nilai yang sebetulnya sudah memotivasi para pelakunya sejak awal perkembangannya pada akhir abad ke 19an, pada Kongres ICA di Manchester 2005 lalu diformulasikan sebagai berikut: menolong diri sendiri, bertanggungjawab sendiri, demokrasi, persamaan, keadilan, solidaritas, kejujuran, keterbukaan, tanggungjawab sosial dan peduli pada orang lain, yang untuk operasionalnya dijabarkan ke dalam 7 prinsip koperasi. Bersama dengan definisi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip koperasi ini disebut ”Jatidiri atau Identitas Koperasi”, yang membedakannya dengan perusahaan bukan koperasi.
|
|
Baca disini...
|
|
Written by Mufid A. Busyairi
|
|
Sunday, 26 April 2009 07:26 |
|
Salah satu kegemaran Pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu adalah membuat target-target definitif. Ada target swasembada kedelai, swasembada gula, swasembada daging sapi, swasembada jagung, dan go organic. Tetapi hampir semua target itu meleset.
|
|
Baca disini...
|
|
Written by Teguh Boediyana
|
|
Sunday, 19 April 2009 04:23 |
|
Sangat sulit untuk menggunakan kata yang lebih tepat : ironi atau tragis. Ini berkaitan dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2009 pada tanggal 13 Februari 2009 yang antara lain berisikan penghapusan
|
|
Baca disini...
|
|
Written by Teguh Boediyana
|
|
Sunday, 19 April 2009 03:00 |
Tahun 2007 tercatat sebagai tahun bersejarah bagi usaha peternakan sapi perah rakyat di tanah air. Mulai awal tahun 2007 terjadi kenaikan yang sangat luar biasa dari harga susu internasional.
|
|
Baca disini...
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 Next > End >>
|
|
Page 1 of 4 |
siang pak mau tanya soal blotong stok...
Saya memiliki ruput gajah seluas 22 h...
Assalamualaikum Bisa jadi kontributor...
Please kindly inform if any available...
Mohon data perkembangan sapi nasional...