logo
You Are Here: Halaman Depan
contenthead
Berita
Peternakan Masih Belum Dilihat Sebagai Sektor Riel
Written by Administrator   
Monday, 27 July 2009 07:26

Peternakan selama ini masih belum dilihat seluruhnya sebagai sektor riel. Padahal peternakan sudah diakui memberikan kontribusi yang besar dalam pembangunan ekonomi. Hal ini dikemukakan dalam diskusi “Peningkatan Usaha Peternakan dari Segala Sisi” di farm PT Citra Agro Buana Semeseta (CABS) milik Yudi Guntara di Sumedang Jawa Barat. Dalam diskusi ini juga hadir pengelola Sarjana Membangun Desa (SMD) Cupu Mandiri,  mahasiswa dan dosen peternakan Universitas Padjadjaran, pengusaha peternakan, Peneliti Puslitbang Ternak Deptan, Staf Dinas Peternakan Provinsi dan Organisasi Peternakan.

Yudi Guntara selaku pemilik PT Citra Agro Buana Semeseta mengatakan, peternakan itu sudah diakui memberikan kontribusi yang besar terhadap pembangunan ekonomi. Namun sayangnya sektor ini sangat sulit untuk dilihat sebagai sektor riel atau sektor usaha yang perlu diberikan permodalan. “Mungkin karena bank belum melihat bahwa ternak itu adalah aset peternak. Seharusnya bank melihat ternak inilah sebagai aset tapi yang dilihat bank justru sertifikat,” katanya.

Read more...
 
Susu Cair : Sempurna tapi belum Membudaya
Written by Administrator   
Monday, 27 July 2009 07:12

Lebih dari 80% warga dunia mengkonsumsi susu dalam bentuk cair, dan dipastikan Indonesia tak masuk di dalamnya. Susu adalah minuman alami, kaya akan nutrisi yang sulit ditandingi. Dalam budaya Arab, ia diistilahkan sebagai minumannya para nabi. Ini antara lain karena tak kurang, Muhammad, nabinya umat muslim menyebut susu sebagai minuman paling utama dan dianjurkan mengkonsumsinya setiap hari. Sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, logikanya Indonesia akan menganut paham apa yang diajarkan nabinya. Tapi fakta berbicara lain. Tak sejalan dengan logika, bangsa Indonesia tercatat sebagai masyarakat dengan pola konsumsi susu yang buruk.

Tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia yang masih sangat rendah adalah satu persoalan tersendiri dan menuntut tindakan koreksi sistemik, karena menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia, baik aspek kesehatan maupun kecerdasan. Tetapi, selain tingkat konsumsi yang masih rendah, preferensi (pilihan) masyarakat akan jenis susu yang dikonsumsi juga menuntut koreksi. Senyampang persoalan tingkat konsumsi yang baru di titik 9 kg/kap/th alias 1 gelas per minggu, alias 20 tetes per hari, ada yang keliru pula dari cara masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi susu. Masyarakat Indonesia lebih mengenal susu bubuk ketimbang susu segar atau susu cair. Lebih dari 90% warga negeri ini terbiasa mengkonsumsi susu berupa bubuk atau kental manis, dan tak lebih dari 10% yang kesehariannya minum dalam bentuk cair. Padahal jamaknya, masyarakat dunia mengkonsumsi susu dalam bentuk segar atau susu cair, sebagaimana sering tampak dalam tayangan film-film asal negara-negara maju.

Read more...
 
Mau Swasembada, Bibit Nggak Ada
Written by Administrator   
Monday, 20 July 2009 05:59

Perbibitan masih diyakini sebagai kunci keberhasilan obsesi besar sewasembada daging yang kini bergeser tahun targetnya menjadi 2014. Tapi perbibitan pula menjadi simpul persoalan yang berbelit sulit diurai dalam bisnis persapian tanah air.
Sebagaimana berulangkali ditegaskan Dayan Antoni, yang menyuarakan bahasa pelaku usaha, bisnis pembibitan sejauh ini tidak bisa memasukkan variabel bunga kredit dalam analisis usahanya bila mau untung. Dengan kata lain, bunga kredit untuk usaha ini mutlak 0%. “Kalau ada variabel bunga pinjaman, bisa dipastikan selesai pembahasannya,” tegas Dayan. Maksudnya sudah pasti buntung bukan untung. Pertanyaannya mengapa pihaknya, PT Santosa Agrindo dan segelintir swasta lain mau mencoba terjun di bisnis itu? Dayan menjawab balik dengan tanya, “Kalau tak dimulai sekarang, kapan bisa tahu peta bisnis ini?” Sekadar catatan, bunga pinjaman komersil nasional saat ini di kisaran 16%, sementara beberapa kredit subsidi (program) dari pemerintah bervariasi 5 – 7 %.

Angin segar di 2008 ketika departemen pertanian mengeluarkan KUPS (Kredit Usaha Pembibitan Sapi) yang bunganya 0%. Tapi apa lacur, gagasan ini justru ini mandek di meja Menkeu. Dana yang disebut-sebut mencapai Rp 500 miliar dan ditunggu-tunggu tersebut sampai berita ini dituliskan belum terealisasi karena Permenkeu sebagai payung hukum belum juga turun. Keterangan ini disampaikan Fauzi Luthan, Direktur Budidaya Ternak Ruminansia, Ditjen Peternakan, Departemen Pertanian. “Kita sedang menunggu keputusan menkeu, kredit untuk peternak dalam mendukung P2SDS ini bisa dinolkan bunganya.” Akankah Menkeu menjadi sebab terganjalnya swasembada dan bakal terkoreksi kembali target tahun 2014?

 

Read more...
 
Butuh 1.080 Ton Rumput Setiap Hari untuk Pakan Sapi
Written by Administrator   
Saturday, 11 July 2009 23:55

Kebutuhan rumput untuk pakan sapi perah mengalami peningkatan setiap waktunya, seiring dengan penambahan populasi hewan ternak tersebut. Dengan asumsi seekor sapi mengonsumsi 40 kg rumput, maka dibutuhkan 1.080 ton rumput setiap harinya untuk 27.000 sapi perah yang ada di Kab. Bandung. "Peternak tentu saja tidak bisa memenuhi kebutuhan rumput itu sendiri. Untuk itu kami berupaya memfasilitasi kebutuhan mereka dengan memperantarai kerja sama dengan Perhutani dalam hal penyediaan areal tanam rumput gajah yang biasa dijadikan pakan," kata Kepala Bidang Peternakan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kab. Bandung Hera Indrawan ketika ditemui di ruang kerjanya, Jumat (10/7).

Read more...
 
ASMD Produksi Kandang Harga Murah
Written by Administrator   
Sunday, 21 June 2009 20:56
Produk kandang ternak berharga murah diproduksi dan diperkenalkan oleh Asosiasi Sarjana Membangun Desa (ASMD),  untuk ditawarkan kepada para peternak sebagai alternatif efisiensi biaya  pembangunan kandang. Kandang dengan sistem  siap rangkai tersebut, dibuat dari bahan bambu dengan atap rumbia, yang siap dibangun hanya dalam tempo satu jam.

baca disini...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 Next > End >>

Page 3 of 7


contentfoot

Visitor Website




Adsense Indonesia