
| Menunggu Kerbau |
| Written by administrator | |||||||||
| Thursday, 04 February 2010 21:09 | |||||||||
|
Krisis kerbau memang menjadi masalahdi desa itu dalam beberapa tahun terakhir. Di Lemahputih, tinggal empat orangyang memiliki kerbau, Encu (52), Eje (40) , Oman (47), dan Encun (49). Encu danEje masing-masing memiliki dua ekor kerbau, sedangkan Oman dan Encun memilikiseekor saja. Umur kerbau milik mereka pun sudah tua, di atas sepuluh tahundengan stamina yang kian terbatas. Kepemilikan kerbau tersebut dilakukan secaraturuntemurun dari nenek moyang mereka. Oleh karena hanya mereka yang memiliki kerbau, tak heran jika setiap musimtanam banyak petani di wilayah Lemahputih ini terlambat tanam akibat berebutuntuk membajak sawah. Dalam kurun waktu hampir dua bulan setengah, para pemilikkerbau itu sibuk melayani petani yang memesan kerbau untuk membajak sawah.Seperti mobil, kerbau menjadi rebutan untuk dirental (disewa) karena petaniingin lebih dulu sawahnya dibajak. Meski luas areal sawah di Lemahputih hanya beberapa bau (satu bau sama dengan 0,2hektare), tetapi petani di wilayah itu tetap saja mengalami keterlambatantanam. Ini akibat harus sabar menunggu giliran kerbau. Mereka yang memesanduluan yang dilayani pertama kali. Kalau ada petani yang pesannya terlambat,otomatis gilirannya paling belakang. Di Lemahputih, daerah yang areal persawahannya berbentuk terasering karenaberada di bibir bukit, tidak ada traktor. Satu-satunya alat untuk mengolahsawah atau membajak hanya dengan menggunakan kerbau. Meski ukuran petakan sawah relatif kecil, antara 2 x 2 meter hingga yangterluas 5 x 8 meter, petani tetap terlambat membajak. Ini karena jumlah kerbausangat terbatas. Dan pada saat semua sawah harus diolah mereka terpaksa harusbergiliran menggunakan kerbau. ”Masalahnya, di sini jumlah kerbau sangat terbatas. Tidak lebih dari sepuluhekor, sedangkan jumlah petakan sawah lebih dari dua ratus petak. Kalau dengantraktor, selain tidak ada petani yang punya traktor, jelas sulit karenapetakannya kecil,” ucap Encu yang selama dua bulan tidak henti membajak sawah. Encu, Eje, dan pemilik kerbau lainnya kini sibuk pindah dari satu sawah kepetak sawah lain, sesuai dengan jadwal. Bersama kerbaunya, kini mereka sedangmenjadi primadona dan dimanjakan oleh para petani pemilik sawah. Mereka menjamusebaik mungkin supaya si kerbau bisa cepat membajak sawah sehingga lebih cepatbisa ditanami. ”Kemampuan kerbau dengan mesin tentu berbeda. Kalau traktor, sehari bisa limapetak, kalau kerbau dua petak saja kepayahan. Apalagi membajaknya tidak bisasendirian, harus berdua. Satu orang nyingkal (membalikkan tanah) seorang lagingagaru (meratakan tanah),” kata Eje. Kemampuan kerbau untuk ngawuluku (membajak), menurut dia, tidak banyak. Dalamsehari, paling hanya dua petak sawah. Itu dikerjakan mulai pukul 6.00 WIBhingga 11.00 WIB atau paling lambat pukul 12.00 WIB. Kerbau yang kebetulansudah berusia tua tidak bisa dipaksakan hingga sore hari. Siang harinya, kerbauharus mandi dan istrirahat, serta diberi pakan, baru keesokan harinya kerbaubisa bekerja kembali. ”Jarang ada kerbau bekerja hingga tengah hari. Kasihan kalau dipaksakan. Sayajuga capek karena harus nyabit rumput untuk pakannya. Paling repot kalau tanamgadu (penyelang, di antara dua musim tanam) karena musim kering cari rumputsulit, harus ke hutan,” tutur Eje. Soal upah ngawuluku, menurut Eje, Encu, dan Ucu, setiap harinya mereka dibayarRp 30.000 hingga Rp 35.000 Itu ditambah makan sekali dan minum kopi yangmerupakan beban pemilik sawah. Sementara untuk kerbau, itu sudah tanggung jawab pemilik untuk memberi pakan.Belakangan, karena petani ingin kerbaunya bekerja maksimal, ada pula yangsampai menyediakan rumput agar si kerbau makin giat kerjanya. Menurut Encu, jumlah kerbau di Lemahputih lima tahun ini terus menurun. Padahalsebelumnya bisa mencapai lima puluh ekor. Petani mulai malas memelihara kerbaukarena selain perkembangannya lambat, juga sulit mencari makan. Seringnya musimkemarau penjang membuat pemilik kerbau kesulitan memberi pakan karena rumputterbatas. Selain itu, kesulitan hidup yang dialami masyarakat di lereng gunung itu makinmeningkat. Oleh karena itu, dalam lima tahun ini banyak warga yang terpaksamenjual kerbau. ”Orang lain mah sudah jarang yang mau memelihara kerbau karenacapek harus nyabit rumput. Satu kerbau setiap harinya paling tidak tigacarangka (rinjing-red.),” tutur Encu. Apa yang terjadi di Lemahputih rupanya juga sudah menjadi fenomena di seluruhdesa di Majalengka. Di Kampung Cibasale, Kelurahan Majalengka Kulon pun hanyatinggal tiga orang yang memiliki kerbau, masing-masing satu ekor. Itupun satuorang di antaranya maparon (beternak milik orang lain) dari petani lain di luardesanya. ”Jarang yang punya kerbau banyak, harganya mahal sekarang,” ucap Wawan yangmemiliki kerbau mengikuti jejak orang tuanya. Di saat populasi kerbau menurun, para pemilik kerbau memperoleh berkah. Padasaat musim tanam seperti sekarang, terutama di persawahan di lereng gunung,kerbau lagi laku keras. ”Sudah dua bulan kerbau saya dirental. Jadwalnya sampaiakhir Februari. Lumayan,” tutur Eje.
Sumber : Disnak Jabar
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|


Meski musim hujan sudah berlangsung lebih dari sebulan, sebagian besar petani di Desa Lemahputih, Kec. Lemahsugih, Kab. Majalengka terlambat tanam. Penyebabnya bukan karena mereka malas, melainkan terjadinya krisis kerbau di daerah pertanian tersebut. Petani pun kebingungan. Mereka rugi waktu sebab hingga kini sebagian sawah belum bisa diolah.Para petani di desa yang berlokasi di lereng Gunung Ciremai itu harus antre menunggu giliran menggunakan kerbau. Soalnya, kerbau yang ada kini sedang sibuk melayani jadwal membajak. Bagaimana dengan sapi? Di sana semua sapi diternakkan sebagai pedaging. Para pemilik enggan mempekerjakan sapinya untuk membajak sawah. ”Order kerbau saya kini sangat banyak. Sampai lima belas hari ke depan. Jadi petani yang daftar terlambat harus sabar menunggu giliran,” tutur Encu (52), salah seorang pemilik kerbau di Lemahputih.
siang pak mau tanya soal blotong stok...
Saya memiliki ruput gajah seluas 22 h...
Assalamualaikum Bisa jadi kontributor...
Please kindly inform if any available...
Mohon data perkembangan sapi nasional...